RSS

Anda Wajib Mengunjungi Danau Laut Tawar Takengon

 Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Suku Gayo menyebutnya dengan Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter). Danau Laut Tawar merupakan surga wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, danau ini menjadi sumber mata pencaharian penduduk setempat.
   Jika anda berkunjung ke Kota Takengon Kabupaten Aceh Tengah, terasa kurang kalau belum melihat langsung keindahan alamnya yang dikeliling oleh pegunungan dengan dipenuhi pohon pinus dan kicauan burung yang menghiasi alam yang menakjubkan ini, sungguh dapat menghilangkan penat yang ada pada diri  setelah dipenuhi aktivitas pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran.
Berikut adalah foto-foto keindahan Danau Laut Tawar :
Image
Image
 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2013 in Home, Parawisata

 

Keelokan Alam Negeri Diatas Awan

Tidak habis-habisnya anugerah terindah yang terhampar luas didataran tinggi Gayo, Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Berikut ini adalah foto-foto DAS pesangan dengan keindahan alamnya :
Lokasi : DAS Peusangan, Wih Bakong
Lokasi: Lut Kucak Jagong
Totor Gantung Lenga, Bies
Paya Sangor aKa Belang Bebangka
Lumut, Lane, Kala Mpo, Ketapang
Pedekok: Kampung terakhir sebelum tanjakan Bur Lintang menuju arah Belang Kejeren. Sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian, perkebunan dan perikanan darat
Danau Lut Tawar
Luang Telintang Pegasing
DAS Peusangan
Luang Pegasing
Kenawat Lut
 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2013 in Home, Parawisata

 

Siapakah Orang Aceh?


Ada cerita seputar kelamnya konflik TNI- GAM, yang menarik untuk diketahui ceritanya bagaimana orang Aceh memahami perang. Ada pula cerita seputar kelamnya gempa dan tsunami yang melanda Aceh, yang ingin saya tahu adalah bagaimana orang Aceh memahami tsunami dan apakah ada keajaiban yang tercipta darinya. Atau jangan-jangan tsunami itu sendiri adalah keajaiban. Ada pula cerita dan gambaran tentang Aceh sebagai negeri Serambi Mekah di satu sisi dan di sisi lain digambarkan sebagai ‘kebun’ ganja; yang menarik dari kebertolakbelakangan ini bagi saya adalah bagaimana orang Aceh menghayati hidup keagamaannya.
Inilah beberapa cerita, dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam ruang kepala saya, yang selanjutnya mendesak saya untuk meninggalkan rasa takut dan ngeri, lantas dengan lapang dada mengunjungi negeri seribu mesjid ini dan memulai berkarya untuk masyarakat. Saya mengawali perjumpaan dalam karya dengan perkenalan. Perlahan-lahan saya mencoba untuk mengenal lebih dekat dengan situasi dan karakter orang Aceh melalui kisah-cerita Snouck Hurgronje dalam ‘Aceh, Rakyat dan adat Istiadatnya’ (1997).
Kisahnya detail obyektif dan konprehensif, tetapi belakang hari saya baru tahu kalau Hurgronje dibenci di Aceh, lantaran kemenduaannya dalam mempelajari Aceh. Di satu sisi mencoba mempelajari agama dan adat kebiasaan orang Aceh, tetapi pada saat yang sama katanya dia adalah mata-mata Belanda. H. Ridwan Saidi seperti yang ditulis Rizki Rydyasmara dalam ‘Gerilya Salib di Serambi Mekkah, dari Zaman Portugis sampai Pasca-Tsunami’ mengatakan bahwa ‘Snouck Hurgronje merupakan seorang orientalis Belanda yang mempraktekkan strategi berpura-pura masuk Islam (Isharul Islam) untuk menangguk keuntungan pribadinya (Belanda)’
Saya meninggalkan Hurgronje dan selanjutnya melakukan pendekatan secara lebih terlibat. Saya mengunjungi komunitas, membangun komunikasi dan berkenalan secara lebih dekat. Selain mendapatkan banyak cerita dan kisah yang menjawab semua rasa penasaran saya sejak awal, sesungguhnya Aceh itu sendiri khas dan unik. Dalam kesempatan ini saya hanya melukiskan kekhasan dan keunikan Aceh yang saya jumpai dan alami dari karakter manusia dan budayanya. Bahwa sesungguhnya kekhasan orang Aceh jika diperbandingkan dengan kultur masyarakat lain di Indonesia adalah sikap militansi dan loyal atau patuh kepada pemimpin.
Bukan tanpa alasan jika saya menyebutkan dua hal di atas sebagai dua karakter yang paling menonjol dari orang Aceh. Pertama, sikap militansi masyarakat atau orang Aceh sudah ditempa sejak ratusan tahun lalu, sejak pendudukan Belanda sampai konflik bersenjata antara GAM-RI. Semangat rela berkorban, berjuang dan berperang sampai titik darah penghabisan yang ditempa sekian lama itu lantas mengental, mengkristal jadi sebuah budaya yang melekat erat dalam setiap karakter masyarakat Aceh. Hal ini bisa dibaca melalui syair-syair do daidi, senandung peninabobo bayi yang mengajarkan dan mengajak sang bayi agar setelah besar nanti pergilah ke medan perang untuk berjuang membela bangsa (nanggroe).
Kedua, selain sikap militansi, sikap yang lain yang menonjol adalah loyal dan patuh pada pemimpin. Loyalitas dan kepatuhan bagi orang Aceh sebenarnya sebuah nilai dengan harga mahal. Sebab, agar orang Aceh menjadi loyal dan patuh, sang pemimpin haruslah jujur, setia kepada rakyatnya, tidak ingkar janji, bijak dalam pelayanan serta percaya kepada rakyat.
Saya cukup menyebut dua contoh di sini. Pertama, pada masa perjuangan merebut kemerdekaan orang Aceh rela memberikan segala harta bendanya kepada Indonesia lewat sebuah pesawat bernama RI 01 yang kita tahu sekarang dimuseumkan di Taman Mini Indonesia Indah. Inilah bukti kepatuhan dan loyalitas orang Aceh terhadap Soekarno karena beliau menjanjikan penetapan syariat Islam di Aceh. Janji itu disampaikan Soekarno kepada Tengku Daud Beureuh pada 16 Juni 1948. Kedua, Aceh memberikan kemenangan telak kepada partai Demokrat dan secara khusus kepada SBY dalam pilpres 2009. Tercatat 93% masyarakat Aceh memilih SBY. Ini juga bukti kepatuhan dan loyalitas orang Aceh terhadap SBY, karena dalam masa pemerintahannya SBY telah memberikan sesuatu yang berharga untuk Aceh yakni perdamaian.
Saya menyebut sikap loyal dan patuh orang atau masyarakat Aceh terhadap pemimpin sebagai sebuah harga yang mahal karena sang pemimpin jangan sekali-kali ingkar janji. Jika sampai hal itu terjadi bukan tidak mungkin masyarakat atau orang Aceh akan memberontak dan bahkan menyimpan dendam yang panjang. Fakta sejarah sudah membuktikan itu. Kebaikan orang Aceh melalui pesawat RI 01 dan ribuan nyawa mati di medan perang demi mempertahankan kesatuan NKRI pada masa merebut kemerdekaan justru dibalas dengan ‘tuba’ oleh Soekarno. Soekarno inkar janji. Sebagai reaksi terhadap pemerintah pusat yang acuh tak acuh, pada tanggal 21 September 1953 Tengku Daud Beureuh akhirnya memproklamasikan Aceh sebagai Negara Islam (Darul Islam) walau tetap menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia.
Belajar dari fakta sejarah masa lulu, SBY yang sekarang dipercayakan oleh mayoritas masyarakat Aceh hendaknya membangun silaturahmi yang baik dengan masyarakat Aceh. Sebab bisa saja terjadi, jika kepercayaan itu tidak dihargai, maka Aceh akan bergejolak lagi. Prediksi ini memang jauh panggang dari api, tetapi sikap awas SBY atas semua janjinya mesti perlu dibuktikan.
Itulah gambaran singkat perjumpaan saya dengan masyarakat Aceh sampai akhirnya saya menjumpai Dr. Mohd Harun lewat ‘Memahami orang Aceh’ (April 2009) Kajiannya atas masyarakat Aceh dari penggalan syair hadih maja seperti meneguhkan sedikit perjumpaan saya dengan masyarakat Aceh. Menurutnya ada lima prototipe watak orang Aceh. Pertama adalah reaktif artinya sebagai sebuah sikap awas atas harga diri yang keberadaanya dipertaruhkan dalam konstelasi sosial budaya. Orang Aceh sangat peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Orang Aceh tidak suka diusik apalagi diejek, ‘Aceh han me ceb’ (Aceh pantang diejek) sebab, karena kalau tersinggung dan menanggung malu reaksi yang timbul adalah akan dibenci dan bahkan menimbulkan dendam.

Kedua adalah militan artinya memiliki semangat juang yang tinggi, bukan hanya dalam memperjuangkan makna hidup tetapi juga dalam mempertahankan harga diri atau eksistensinya. ‘Rencong peudeueng pusaka ayah, rudoh siwah kreh peunulang. Nibak udep dalam susah, bah manoe darah teungoh padang’ (Rencong, pedang pusaka ayah, rudoh, siwah keris warisan. Daripada hidup di dalam susah, biar bermandikan padang di tengah padang)
Ketiga adalah optimis hal ini tampak dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Orang Aceh beranggapan bahwa setiap pekerjaan yang kelihatan sulit dan berat harus dicoba dan dilalui. ‘Siploh pinto teutob, na saboh nyang teubah’ (sepuluh pintu tertutup, ada satu yang terbuka) Keempat adalah konsisten. Hal ini tampak dalam sikap dan pendirian yang tidak plin plan, tegas, taat asas apalagi jika berkaitan dengan harga diri dan kebenaran. ‘Cab di batee labang di papeuen, lagee ka lon kheun jeut metuba’ (cap di batu paku di papan, seperti sudah kukatakan tak boleh bertukar)
Kelima adalah loyal. Hal ini amat berkaitan dengan kepercayaan. Jika seseorang , lebih-lebih pemimpin, menghargai, mempercayai, tidak menipu, tidak mencurigai orang Aceh maka mereka akan mebaktikan diri sepenuhnya kepada sang pemimpin.‘Adak lam prang pih lon srang-brang. Bah mate di blang ngon sabab gata’ (walau dalam perang pun saya berkorban, biarlah mati dalam perang demi anda)
 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2013 in Home, Knowledge, Pendidikan

 

Mau Tau Suku Apa Saja Yang ada di Prov. Aceh

1. Suku Aceh
Suku Aceh adalah nama sebuah suku yang mendiami ujung utara Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.

ImageSuku Aceh memiliki sejarah panjang tentang kegemilangan sebuah kerajaan Islam hingga perjuangan atas penaklukan kolonial Hindia Belanda. Banyak dari budaya Aceh yang menyerap budaya Hindu India, dimana kosakata bahasa Aceh banyak yang berbahasa Sanskerta. Suku Aceh merupakan suku di Indonesia yang pertama memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Masyarakat Aceh mayoritas bekerja sebagai petani, pekerja tambang, dan nelayan.

2. Suku Aneuk Jamee
Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat dan selatan Aceh. Dari segi bahasa, diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau. Namun, akibat pengaruh proses asimilasi kebudayaan yang cukup lama, kebanyakan dari Suku Aneuk Jamee, terutama yang mendiami kawasan yang didominasi oleh Suku Aceh, misalnya di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Bahasa Aneuk Jamee hanya dituturkan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini umumnya mereka lebih lazim menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca). Adapun asal mula penyebutan “Aneuk Jamee” diduga kuat dipopulerkan oleh Suku Aceh setempat, sebagai wujud dari sifat keterbukaan Orang Aceh dalam memuliakan kelompok warga Minangkabau yang datang mengungsi (eksodus) dari tanah leluhurnya yang ketika itu berada di bawah cengkraman penjajah Belanda. Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti “anak tamu”.

3. Suku Alas
Suku Alas merupakan salah satu suku yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh (yang juga lazim disebut Tanah Alas). Kata “alas” dalam bahasa Alas berarti “tikar”. Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).

Sebagian besar suku Alas tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian dan peternakan. Tanah Alas merupakan lumbung padi untuk daerah Aceh. Tapi selain itu mereka juga berkebun karet, kopi, dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan binatang yang mereka ternakkan adalah kuda, kambing, kerbau, dan sapi.

Kampung atau desa orang Alas disebut kute. Suatu kute biasanya didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Pola hidup kekeluargaan mereka adalah kebersamaan dan persatuan. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.

Suku Alas 100% adalah penganut agama Islam. Namun masih ada juga yang mempercayai praktik perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian. Mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil baik atau terhindar dari hama.

4. Suku Batak Pakpak
Suku Pakpak adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Pulau Sumatera Indonesia dan tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan( Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Sabulusalam.

Suku Pakpak terdiri atas 5 subsuku, dalam istilah setempat sering disebut dengan istilah Pakpak Silima suak yang terdiri dari :

Pakpak Klasen (Kab. Humbang Hasundutan Sumut)
Pakpak Simsim (Kab. Pakpak Bharat-sumut)
Pakpak Boang (Kab. Singkil dan kota Sabulusalam-Aceh)
Pakpak Pegagan (Kab. Dairi-sumut)
Pakpak Keppas (Kab. Dairi sumut)

Dalam administrasi pemerintahan Suku Pakpak banyak bermukim di wilayah Kabupaten Dairi di Sumatera Utara yang kemudian dimekarkan pada tahun 2003 menjadi dua kabupaten, yakni:

Kabupaten Dairi (ibu kota: Sidikalang)
Kabupaten Pakpak Bharat (ibu kota: Salak)

Suku Pakpak juga berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah. Suku Pakpak yang tinggal di wilayah tersebut menamakan diri sebagai Pakpak Klasen. Suku Pakpak juga bermukim di wilayah Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Singkil dan kota Sabulusalam yang disebut sebagai Pakpak Boang.

Suku Pakpak yang berdiam di Kabupaten Pakpak Bharat adalah Pakpak Simsim, sedangkan yang tinggal di kota Sidikalang dan sekitarnya merupakan suku Pakpak Keppas dan yang bermukim di Sumbul sekitarnya adalah Pakpak Pegagan. Suku bangsa Pakpak mendiami bagian Utara, Barat Laut Danau Toba sampai perbatasan Sumatra Utara dengan provinsi Aceh (selatan). Suku bangsa Pakpak kemungkinan besar berasal dari keturunan tentara kerajaan Chola di India yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad 11 Masehi.

5. Suku Devayan
Suku Devayan merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue. Suku ini mendiami kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teluk Dalam.

6. Suku Gayo
Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Aceh. Suku Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Selain itu suku Gayo juga mendiami beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.

Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya dan menggunakan bahasa sehari-hari yakni bahasa Indonesia dan bahasa Gayo. Suku Gayo dikenal akan keanekaragaman budaya yang sangat unik dan keindahan alamnya yang menjadi menjadi simbol kemakmuran rakyat Gayo.

7. Suku Haloban
Suku Haloban merupakan suatu suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di kecamatan Pulau Banyak. Kecamatan Pulau Banyak merupakan suatu kecamatan yang terdiri dari 7 desa dengan ibukota kecamatan terletak di desa Pulau Balai.

8. Suku Kluet
Suku Kluet adalah sebuah suku yang mendiami beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Selatan, yaitu kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

9. Suku Lekon
Suku Lekon adalah sebuah suku bangsa yang terdapat di kecamatan Alafan, Simeulue di provinsi Aceh. Suku ini terdapat di desa Lafakha dan dan Langi.

10. Suku Singkil
Suku Singkil adalah sebuah suku yang terdapat di kabupaten Aceh Singkil daratan dan kota Subulussalam di propinsi Aceh. Kedudukan suku Singkil sampai saat ini masih diperdebatkan, apakah termasuk dalam suku Pakpak suak Boang atau berdiri sebagai satu suku yang tersendiri terpisah dari suku Pakpak.

11. Suku Sigulai
Suku Sigulai merupakan suatu suku bangsa yang mendiami Pulau Simeulue bagian utara. Suku ini terdapat di kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang.

12. Suku Tamiang
Penduduk utama kabupaten Aceh Tamiang adalah suku Melayu atau lebih sering disebut Melayu Tamiang. Mereka mempunyai kesamaan dialek dan bahasa dengan masyarakat Melayu yang tinggal di kabupaten Langkat, Sumatera Utara serta berbeda dengan masyarakat Aceh. Meski demikian mereka telah sekian abad menjadi bagian dari Aceh. Dari segi kebudayaan, mereka juga sama dengan masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera lainnya.

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2013 in Home

 

“Pengat Gayo” Masakan Khas Dari Aceh Tengah

ImagePengat Gayo adalah sebuah masakan khas yang berasal dari dataran Gayo. Bentuk makanan ini lebih mirip dengan pepes dan dimasak tidak menggunakan daun, melainkan dimasak seperti pembuatan gulai tetapi dimasak hingga tidak berkuah. Pengat Gayo biasanya dibuat dari berbagai jenis ikan, khususnya ikan yang digunakan oleh masyarakat gayo seperti ikan bawal hitam ataupun merah dan ikan depik atau sering juga disebut dengan ikan mas.
Pengat Gayo mempunyai ciri khas dengan keasaman rasanya. Campuran antara air jeruk dan sedikit asam sunti dapat menghasilkan cita rasa yang khas. Jenis makanan ini dibuat tidak berkuah, dipastikan ikan benar-benar matang dan bercampur dengan bumbu. Biasanya memerlukan waktu 1 hingga 2 jam untuk membuatnya. Pengat Gayo biasanya menjadi ciri khas ketika ada acara-acara tertentu seperti Mangan Morom atau makan bersama, pesta perkawinan dan penerimaan tamu agung.
Ikan depik adalah salah satu favorit ibu rumah tangga di Gayo untuk dijadikan Pengat, hal ini disebabkan lebih gampang ditemukan didaerah kota takengon (aceh tengah) dan tekstur juga cocok untuk dijadikan pengat.
 
  •  Cara membuat Pengat Gayo :
Bahan
- Ikan Depik,  Bandeng atau ikan Mujahir 1 kg
- Ikan dibersihkan dan dipotong2 sesuai selera
 
Bumbu Halus
- cabe merah keriting 10 buah
- bawang merah 5 buah
- kunyit 1 cm
- asam sunti 3 buah
- ketumbar secukupnya
- Kacang panjang atau terong secukupnya
- daun penyedap masakan berasa mint
- air secukupnya
 
Cara Membuat :
1. semua bahan bumbu halus diulek /diblender kasar
2. masukkan ke wajan tempat memasak ikan
3. bumbu dan ikan ditaruh di wajan dan campur dengan air secukupnya
 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2013 in Home

 

Jejak Keabadian di Bur Origon

 

Bunga Edelweis

TAKENGON, Keberadaan Bunga Edelweis (bunga keabadian) dan Kantung Semar di Bur Origon, Kebayaken, Kabupaten Aceh Tengah baru tercium oleh pemuda Kampung Kebayaken. Padahal sekian tahun yang lalu, bunga abadi ini sudah ditemukan sejumlah bikers (penggemar sepeda).

Inisiatif dan rasa ingin menyelamatkan hayati yang cukup berharga ini, menggerakkan hati sepuluh pemuda Kampung Kebayakan, mereka terjun dan jelajahi Bur Origon dalam misi penyelamatan bunga Edelweis dan Kantung Semar, Selasa (03/9/2013) kemarin.

Dikatakan Budi, keberadaan bunga tersebut cukup membuat kami terkejut. Karena sebelumnya kami belum pernah mendengar berita tentang adanya edelweis dan katong semar di Gunung Origon kecamatan kebayakan Kabupaten Aceh Tengah.

“ Setelah mendapatkan informasi dari teman, kami ingin sekali tau tentang keberadaan bunga tersebut, sekaligus ini merupakan misi penyelamatan terhadap ekosistem yang ada di Bur Origon, kegiatan ekspedisi penyelamatan ini semata-mata bentuk amal kami selaku Pemuda Kebayakan” Terang Budi ketua tim ekspidisi penyelamatan.

Dari sejumlah sumber dan belantara Indonesia yang dikutip Leuser Antara, Pertumbuhan Edelweis tergolong cepat, walau hanya memiliki tinggi 1 meter, akan menghasilkan bunga – bunga generatif yang melimpah. Di daerah yang sama sekali tidak terusik, seperti pegunungan, Edelweis mampu tumbuh hingga 8 m dan dengan batang yang kokoh.

Dari kajian ekologis, edelweis memiliki peran sebagai pioner dalam revegetasi dan suksesi. Menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur – unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain.

Selain tanaman perintis, edelweis menjadi “cover corp” atau tanaman penutup yang mempu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehingga meminimalkan resiko erosi.

Disisi lain, banyak serangga yang hidup didalam bunga untuk sekedar menghisap nektar atau berlindung didalam rimbunya dedaunan.

Di lokasi yang bukan habitat aslinya, edelweis akan mengalami gangguan pertumbuhan. Di lokasi tersebut, Edelwesi terlihat dengan daun dan bunga yang tak serimbun di pegunungan, dan terkesan kurus.

Namun adanya pembatas faktor lingkungan tak menghalangi edelweis untuk tetap hidup, yakni dengan beradaptasi walau dengan pertumbuhan yang tidak normal.

Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi edelweis agar tetap hidup dilingkungan barunya. Yang menjadi ancaman, bukanlah kondisi lingkungan, tetapi yang ditakutkan adalah ulah tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Tercatat Bur Origon hampir setiap tahun dilanda kebakaran hutan, disitu juga pertaruhan hidup mati dan terjaganya bunga abadi ini. Patut di apreasiasi untuk pemuda Kabayaken ini, yang tergerak melindungi bunga langka tersebut.

Yang, menjadi pertanyaan sekarang, bisakah kita menjaga dan mengapresiasi tanaman eksotis tersebut. Jangan gara – gara dengan embel – embel bunga keabadian lantas memetik dan mempersembahkan kepada kekasih, percuma tak ada yang abadi kecuali bunga plastik yang perlu ratusan tahun agar terurai.

Naif juga jika memetik edelweis sebagai wujud ketulusan cinta, sebab edelweis sudah lebih tulus dari cinta siapapun, sebab dia rela menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan.

Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk edelweis, karena bunga ini harus benar – benar survive agar mampu menjadi yang pertama dalam suksesi dan revegetasi.

Bijak sekali juga kita bisa belajar dari edelweis ini, bagaimana tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan, baik kepada orang terkasih, sesama dan alam ini, seperti yang ditunjukan edelweis dalam habitatnya.

” Kami sepakat bahwa ini adalah misi atau bentuk kampanye terhadap penyelamatan lingkungan, sebuah motivasi dan mengispirasi pemuda lainya untuk mau dapat melestarikan lingkungan ” Sebut Iwan.

- See more at: http://leuserantara.com

 
Leave a comment

Posted by on October 5, 2013 in Home

 

Muhammad Syukri : Depik Pengat, Menu Spesifik Dari Danau Laut Tawar

13282904221713476782

Ikan depik basah yang baru ditangkap dari Danau Laut Tawar Aceh Tengah

Ikan depik (Rosbora tawarensis) adalah ikan endemik yang terdapat di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Ikan kecil yang panjangnya sekitar 8 cm serta lebarnya 2 cm dapat ditangkap sepanjang tahun, terutama pada musim penghujan. Pada musim kemarau, ikan depik hanya dapat ditangkap pada saat bertiup angin dingin, oleh masyarakat setempat diberi nama angin depik (bahasa Gayo: kuyu ni depik).

Keberadaan ikan depik benar-benar anugerah bagi masyarakat sekitar Danau Laut Tawar, karena ikan kecil ini menjadi sumber protein utama. Banyak cara menangkap ikan depik. C.Snouck Hurgronje dalam buku Het Gajoland en Zijne Bewoners (1903) yang diterjemahkan Hatta Hasan (1996) menggambarkan pola penangkapan ikan depik di awal tahun 1900.

13282905491952490322

Depik pengat yang siap untuk dinikmati, warna dan aromanya memancing selera makan

“Alat yang digunakan untuk menangkap ikan depik bernama cangkul, sejenis jaring dengan bagian pinggirnya selebar 5 mata disebut kejer yang terbuat dari benang keri. Keempat sudutnya masing-masing diikatkan pada 4 batang tongkat yang terbuat dari belahan bambu yang dilengkungkan. Keempat ujungnya bertemu dan menyatu pada satu persilangan yang disebut paruk. Dengan menggunakan sepotong bambu bulat sepanjang 2,5 meter yang disebut ger (gagang), cangkul ini siap diturunkan persis tergantung di atas batu untuk menunggu kawanan depik lewat. Begitu ikan masuk, cangkul inipun diangkat,”

Dewasa ini, masyarakat di sekitar Danau Laut Tawar menggunakan jaring yang mereka sebut doran untuk menangkap ikan depik. Jaring yang lebarnya sekitar 2 meter dan panjangnya mencapai 100 meter itu dibentangkan dari Barat ke Timur. Saat kawanan depik melintas dari Selatan ke Utara untuk memijah telurnya akan tersangkut di jaring tadi. Pola penangkapan dengan jaring ini sangat mengkhawatirkan populasi ikan depik, karena kawanan ikan ini sudah tertangkap sebelum sempat memijah telurnya.

 

13282906872098709741

Depik goreng, paling enak dijadikan cemilan bersama secangkir kopi arabika gayo

Sebagai sumber protein utama warga sekitar Danau Laut Tawar, ikan depik dapat ditemukan setiap hari di pasar ikan kota Takengon. Karena ikan ini spesifik, maka harga jualnya relatif mahal, 1 liternya (250 gram) berharga Rp.30 ribu. Walaupun berharga mahal, ikan depik tetap laris manis dan selalu habis terjual. Para penjual ikan depik umumnya adalah kaum perempuan, sementara yang menjaringnya di danau adalah laki-laki.

Bagaimana cara menikmati ikan depik? Paling praktis adalah dengan menggorengnya, setelah dibubuhi jeruk nipis dan garam secukupnya. Sering juga ikan depik digoreng dengan baluran telor atau tepung terigu. Istimewanya, sisik dan sirip ikan depik tidak perlu dibersihkan, pertama karena ikannya kecil dan yang kedua rasa sisik dan siripnya cukup gurih. Ikan depik makin gurih jika diolah dalam keadaan sedang ada telurnya.

Cara mengolah ikan depik yang lebih maknyus adalah dengan cara “pengat.” Masyarakat di sekitar Danau Laut Tawar sering menyebutnya dengan depik pengat. Menurut Inen Fauzul, “master chef” pada Kantin Batas Kota di Takengon mengungkapkan resep rahasia membuat depik pengat.

    1. Sediakan 250 gram ikan depik yang sudah dicuci dan dibubuhi air asam (jeruk nipis) dan garam secukupnya. Biarkan sampai 15 menit, supaya air asam dan garam meresap dalam tubuh ikan tersebut.

    2. Sediakan cabe merah 5 buah, tomat 2 buah, kunyit 1 buah, bawang merah 5 ulas. Kemudian, bahan-bahan itu digiling sampai halus.

    3. Bumbu yang sudah dihaluskan itu dibalur dalam ikan depik yang telah diberi asam dan garam tadi. Bubuhkan air satu cangkir teh, lalu tambahkan lima tangkai buah empan (andaman) atau daun kemangi untuk menimbulkan efek harum.

    4. Rebus menu depik pengat itu selama 30 menit atau sampai airnya mengering. Setelah airnya kering, menu depik pengat siap untuk dinikmati.

Mau mencoba? Boleh datang ke Takengon Aceh Tengah, atau dapat dipraktekkan dengan mengganti ikan depik dengan ikan air tawar lainnya. Rasakan sensasi depik pengat yang membuat kita ingin kembali lagi ke Takengon, apalagi nasinya berasal dari beras Kebayakan (beras putih dari dataran tinggi) yang harum dan pulen.

 
Leave a comment

Posted by on October 5, 2013 in Home

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.